Showing posts with label konservasi. Show all posts
Showing posts with label konservasi. Show all posts

Friday, 9 November 2012

Demografi Manusia di Bumi dan Penggunaan Energi (Hipotesis)

Populasi di dunia ini semakin bertambah seiring dengan kemajuan teknologi, di bidang apapun. Teknologi yang semakin berkembang mempermudah kita menjalani kehidupan kita. Tapi apa yang kita pikirkan dengan teknologi itu adalah bagaimana kita mendapatkan teknologi tersebut agar hidup kita lebih mudah. Kita tidak pernah melihat sisi buruk dari teknologi itu, yaitu energi.

Energi yang bisa digunakan oleh teknologi masih sangat terbatas, baik oleh kualitas, kuantitas, yang keduanya seiring berubah. Di zaman pertama berkembang automobile (motor, mobil) yang mengguanakan energi tak terbaharukan kita - minyak bumi - efisiensi dalam penggunaannya sangatlah boros. Contoh, Harley Davidson yang pertama dibuat mengkonsumsi besin per liter untuk menempuh jarak 20...... rumah, buakn kilometer. Tentu sekarang efisiensi pemakaian bahan bakar tiap kendaraan menjadi lebih baik dengan berkembangnya teknologi, tetapi hanya kualitasnya. Kuantitasnya? Kendaraan dengan efisiensi bahan bakar mencapai ratusan kali dari awal insutri kendaraan, tetapi jumlahnya ribuan bahkan puluhan ribu kali melipat ganda dari jumlah kendaraan yang sangat boroos diwaktu dulu, dan masih bertambah.

Anda tahu, jika kehidupan kita dikompensasi, lebih tepatnya diberisubsidi dari energi yang kita dapatkan dari perut bumi kita. Benar sekali, minyak bumi yang kita lakukan semena-mena seperti takkan pernah habis. Kenapa bisa kita disubsidi? Saya beri ilustrasi nyata. Tahun 1860an adalh awal mula dimana minyak bumi diperoleh. Belum ada pengolahan dan pemakaian yang berarti. Pada tahun tersebut penduduk bumi sekitar 1 milyar sedari 50-100 tahun sebelumnya. Tahun 1922 pendudukbumi mencapai 2 milyar. 37 tahun berselang (1959) penduduk sudah mencapai 3 milyar. Keadaan itu dicapai saat penggunaan minyak bumi sudah mulai banyak terutama untuk kendaraan dan listrik. Padahal di selang waktu tersebut terdapat perang dunia yang banyak memakan korban. Kemudian dengan berkembangnya teknologi, 40 tahun berikutnya yaitu tahun 1999 terjadi peledakan populasi manusia  dengan penduduk bumi mencapai 6 milyar. Tidak lama lagi, diperhitungkan dengan statistik, tahun 2013 manusia mencapai 7 milyar jiwa.


Kita lihat dari sebelum adanya penggunaan minyak bumi. Manusia hanya mengandalkan energi terbarukan dari sinar matahari, sandang, pangan, papan hanya mengandalkan energi tersebut. Kemudian ada lonjakan pertumbuhan manusia yang sangat besar yaitu saat penggunaan energi alternatif, minyak bumi. Normalnya jika kita mengandalkan sumber energi dari matahari saja, populasi manusia tidak akan bertambah sesignifikan itu, hanya di sekitaran 2 milyar jiwa. Jika tahun depan sudah 7 milyar jiwa dan ketika minyak bumi itu habis saat penduduk bumi 10 milyar jiwa, seharusnya secara cepat akan kembali ke angka normalnya yaitu 2 milyar jiwa. Lalu siapkah kita menangani krisis energi tersebut? Jawabannya ada pada diri kita. Mari melihat bumi ini sebagai makhluk yang juga terbatas daya dukungnya. Mari mencegah terjadinya hal tersebut.

Saturday, 30 June 2012

Habitat Monyet Daun (Rekrekan) di Kawasan Gunung Slamet Kian Terancam

Beralihnya ahli fungsi lahan dari hutan menjadi non hutan menjadi ancaman bagi habitat monyet daun.

Monyet daun perak, spesies ini ditemukan di Jawa Barat dan Jawa Tengah. Populasinya yang makin menipis menjadikannya masuk dalam daftar endangered IUCN (Thinkstockphoto).


Rekrekan atau monyet daun (Presbytis fredericae) salah satu primata endemik pemakan daun di kawasan Gunung Slamet habitatnya kian terancam. Terbatasnya luas hutan pegunungan, perkembangan pembangunan yang meningkat di bidang pemukiman, perkebunan, dan pertanian di Pulau Jawa menyebabkan terancamnya habitat monyet daun.

Di pulau Jawa, tempat hidup primata ini kian hanya terbatas pada daerah hutan yang terisolasi seperti Gunung Slamet, Gunung Cupu - Simembut, Gunung Dieng dan Gunung Lawu. Berdasarkan penelitian Abdi Fitri, peneliti dari Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada, habitat yang digunakan oleh rekrekan di Gunung Slamet adalah seluas 33.230 hektare.

Di Gunung Slamet, rekrekan paling banyak ditemukan di daerah tingkat lereng yang curam. Paling banyak ditemukan pada lereng dengan sudut kemiringan 35-40 derajat sebanyak 28 kelompok dan 131 individu. Sedangkan pada lereng 25-35 derajat ditemukan sembilankelompok dan 43 individu.

Menurut Abdi, kelerengan dapat membantu rekrekan terhindar dari predator dan dapat memiliki pandangan yang lebih luas. Bahkan rekrekan banyak ditemukan pada ketinggian habitat di atas 600 meter dari permukaan laut. “Ketinggian 1.100-1.300 mdpl merupakan ketinggian dimana rekrekan paling banyak ditemukan, karena pada ketinggian itu ditemukan pakan yang bervariasi,” kata Abdi Fitria, dalam ujian promosi doktor di Fakultas Kehutanan UGM, Sabtu (23/6).

Ia melanjutkan, kondisi hutan di area Gunung Slamet yang telah mengalami alih fungsi dari lahan dari hutan menjadi non hutan, serta keberadaan hutan primer dengan kanopi dan tutupan yang luas sangat mempengaruhi keberadaan dan penyebaran primata ini. “Ditemukan delapan kelompok dengan 68 individu di daerah hutan primer,” katanya.

Hutan primer di Gunung Slamet menjadi penting bagi rekrekan karena ketersediaan pakan alami yang spesifik. Pakan ini memungkinkan rekrekan untuk dapat berkembang biak dan memperbanyak keturunan. “Semakin luasnya pembukaan lahan, akan semakin mendesak habitat rekrekan dan akan mengarah pada penurunan jumlah populasi rekrekan,” ujarnya.

Dari hasil penelitian Abdi Fitri, rekrekan merupakan golongan primata yang memiliki sistem sosial dengan membentuk kelompok-kelompok kecil. Tidak pernah ditemukan adanya sistem berpindah antar anggota kelompok rekrekan, khususnya individu betina.

Bahkan yang lebih unik lagi, individu jantan dan betina yang telah dewasa akan meninggalkan kelompoknya dengan perlahan dan membentuk kelompok sendiri. Hal itu dimaksudkan untuk menghindari kompetisi makan antar pejantan dan sebagai upaya memperoleh kehidupan berupa sumber pakan yang lebih berkualitas.

Abdi mengusulkan, perlu adanya peningkatan sosial ekonomi dan partisipasi masyarakat dalam usaha perlindungan dan pelestarian hutan melalui program ekowisata dan eduwisata. Namun yang tidak kalah penting, ujar Abdi, perlu dilakukan peningkatan status kawasan dan kegiatan pembinaan habitat sehingga ekosistem Gunung Slamet tetap lestari.
(Olivia Lewi Pramesti)

Original site here

Thursday, 28 June 2012

ECO-RIDING - Berkendara Dengan Bijak Mengurangi Pencemaran

Come on sob, sekarang jamannya kita mengendalikan bumi untuk kehidupan yang lebih baik tentunya. Liat deh gimana cepatnya level air laut meningkat gara-gara meningkatnya level CO2 yang dikeluarin dari isi bumi dalam bentuk minyak bumi buat energi, terutama kendaraan. Ga percaya? Biar deh liat buktinya 10 - 15 tahunan kalo siang gag tambah panas, malem gag  tambah dingin, bencana gag tambah banyak, semuanya karena ulah kita. Yah, memang kesadaran berasal dari dalam diri, jadi ane berdoa aja buat sob-sob yang mau baca tulisan ini.

Ini tulisan tentang orang yang cinta bumi dan cinta ngoprek motor, hehe. Tapi enggak lagi, motor dibiarin standar aja deh biar gag boros dan mencemari lingkungan. Bener lho, kalo motor yang mesinnya diapa-apain atau kelewatan ga diapa-apain (ga pernah diservis) bikin pencemaran tambah parah. Prinsipnya pencemaran nih ya, "PENCEMARAN ADALAH PASTI ADA DI SETIAP PERUBAHAN ENERGI" karena perubahan energi tidak dapat dilakukan perfect 100% sempurna, pasti ada sisanya, nah itu pencemar.

Fokus di motor deh sekarang. Ga motor doank, mobil dan pokoknya kendaraan bermotor deh. Gini sob, kebanyakan motor dan mobil itu  mengunakan bahan bakar minyak yang diambil dari dalam bumi to, apa minyak bumi gag terbatas? Trus pemakaiannya gimana, gag terbatas to? Nah, siap-siap deh 25-an (amatteur judgement, hehe) tahun lagi bakal abis nih minyak, udah growong smua kerak bumi ini. Selain itu "global warming" yang bosennya minta ampun didenger sama kita, ya gag? Walaupun kita bosen mendengarnya tapi sayangnya itu bener terjadi, didukung oleh SEMUA, inget, SEMUA percobaan ilmiah yang ingin membuktikan glogal warming dari bagian manapun. There we are, make our own apocalypse. Saatnya menyiasatinya....

Pertama dari kendaraan sob-sob dulu,
  1. PILIH-PILIH MOTOR. Sob punya motor kudu standar kecanggihan jaman sekarang. Kalo mau beli kendaraan harus bener milih-milih. Harus yang 4 tak. Sumpah 2 tak tuh dah gag jaman banget, brisik, asep, pake oli samping segala, hadeuh, repot deh. Usahain speknya terbaru, injeksi, mentok-mentoknya karbu vacuum deh. Dan yang paling penting hindari mesin diesel, asepnya gag nahan booo. Pilih kapasitas motornya juga jangan gede-gede, tambah boros, sumpah.
  2. RAWAT MOTOR BAIK-BAIK. Nah ini, enak kan kalo motor dalam keadaan manteb, performanya tinggi. Makannya jangan males nyervis motot, minimal 3-4 bulan ditune-up broooh. Kalo gag gitu, keawetan motor sob-sob juga bakal menurun, banyak ganti ini itu deh mestinya.
  3. JANGAN GANTI KNALPOT ASLI PLEASE. Kenapa sih sampe segitunya? Lha ini, gag ngerti sih. Di dalem knalpot asli tuh ada katalis, diperuntukkan untuk mengurangi polutan berbahaya. CO adalah gas tidak berbau dan berwarna yang sangat beracun, dan reaksinya akut, hampir sama kaya SARS. Beberapa menit ngisep CO bakal pingsan, itu masih sukur-sukur sob. Nah, fungsi katalis ngurangin bahan berbahaya kayagitu dengan cara mempercepat reaksi dengan gas lain sehingga yang harusnya CO jadi CO2 karena bereaksi dengan O2. Selanjutnya tanya anak kimia, ok.
Kedua dari sob-sobnya sendiri.

  1. MENGURANGI KECEPATAN SEBELUM LAMPU MERAH. Memperlambat kendaraan jauh sebelum lampu merah akan menghemat bahan bakar dan kampas rem daripada mengerem mendadak.
  2. HINDARI BERKECEPATAN DAN BERAKSELERASI TINGGI DI JALANAN. Menginjak gas secara spontan akan berakibat campuran bahan bakar yang masuk ke dapur pacu mesin kendaraan lebih kaya oleh bensin dibanding udara, hal ini menyebabkan pembakaran yang tidak sempurna. Kecepatan ekonomis kendaraan berkisar antara 40 – 60 km/jam.
  3.  HINDARI JALANAN MACET. Berkendara di bawah kecepatan ekonomis (40 – 60 km/jam) sama borosnya dengan berkendara diatas kecepatan tersebut, karna lebih lama sampai pada tujuan. Terlalu banyak mengegas dan mengerem pun membuat boros konsumsi BBM.
  4. MEMATIKAN MESIN SAAT LAMPU MERAH. Sangat bijak orang yang mematikan mesin saat lampu merah, pastikan kendaraan mudah dihidupkan dengan starter atau kick starter agar nyaman.
  5.  GUNAKAN KENDARAAN HANYA UNTUK JARAK YANG JAUH. Berjalan kaki atau menggunakan sepeda lebih baik untuk menempuh jarak kurang dari 4 km. Se

Selebihnya sob sendiri yang improve ya, dan yang pasti, SAFETY FIRST. Keluarga anda menunggu dirumah, haha.

Tuesday, 26 June 2012

DUKUNGAN GREENPEACE UNTUK HARIMAU SUMATRA

Kita harus beraksi untuk menghentikan kerusakan hutan yang dilakukan oleh KFC.  Dan harimau-harimau malang pun beraksi untuk  mendapat perhatian Sang Kolonel. Meraka mengaum di rumah Sang Kolonel.

Itulah yang Greenpeace lakukan, Aktivis Greenpeace dengan mengenakan kostum harimau sumatera mengunjungi outlet KFC di empat kota, Semarang, Pekanbaru, Bandung dan Jakarta.

Greenpeace mengajak dan melibatkan para pelanggan agar mengatakan kepada KFC untuk berhenti menggunakan kemasan yang berasal dari perusakan hutan alam. Dalam aksi kali ini, Harimau Sumatera dan para aktivis juga menyerahkan laporan terbaru berjudul ‘Bagaimana KFC Terlibat Perusakan Hutan’ kepada store manager setempat.

Sebelumnya, sejumlah aktivis Greenpeace melakukan aksi dengan meletakkan kemasan wadah raksasa Kentucky Fried Chicken (KFC) yang bertuliskan “KFC Terlibat Perusakan Hutan” tepat di tengah kawasan bergambut yang baru saja dihancurkan di hutan gambut Senepis.


Salam hangat,

Monday, 2 April 2012

BBM NAIK HASIL DARI APRIL MOB


Yah, beginilah pemerintah. BBM aja jadi lelucon. Katanya mau naik, sampe ad yang demo anarkis begitu eh dibiarin aja. Mbok ditenangin rakyatnya, dibikin kondusif. Katanya mau maju jaya broooooo. INDONESIA MUAJUUUUUU.....

Tanggal 1 April katanya mau naik, tapi akhirnya gajadi. Kaya mainan anak SMP tau gag, bohongin orang seenaknya. Harusnya yang demo lebih jeli lagi melihat realita kalo pemimpin bangsa kita gag lulus SMA, masih kayak anak kecil. Isu yang belum pasti koq digembor-gemborin. Ga pemerintahnya aja, yang melaporkan ke rakyat juga alias pers, ga sedikit memberikan dampak negatif.

Dampak terbesar, orang yang bersiap-siap demo ya siap-siap mati, atau siap-siap dapet duit yak? Aspirasi masyarakat emang penuh dengan duit. Pernah aq jalan di depan kejaksaan Cirebon, ada demo yang dibuat masa untuk membebaskan wakil walikota dan bawahannya dari jeratan penjara karena korupsi. Isinya, masa itu terlihat sangat intelek sekali, PUNKERS! Pencucian uang yang sangat merakyat, membuat masa untuk membela dirinya sendiri. Saya himbau punkers Indonesia, jangan mau dibeli harga diri temen-temen untuk membela politikus demi uang demo 100 ribu dan bonus 200 ribu kalo anarkis. Apalagi  mahasiswa, amit-amit deh ya, HIDUP MAHASISWA.

Dampak yang lain, hadeuh.... Aq anak kosan yang penuh dengan darah untuk membeli semangkuk nasi, apalagi orang-orang yang termasuk rakyat JELANTAH, bukan jelata lagi. Tau gag hasil dari pemerintah melaksanakan kejahilan APRIL MOB-nya itu, harga-harga pada naik ituh. Udah deh, jangan ngumbar nafsu ngomong redenominasi, pikirin tuh inflasi gara-gara naiknya bahan-bahan pokok. Bingung juga kenapa ya bisa naik, apa gara-gara kacau apa emang pedagang pada ancang-ancang kalo naik beneran.

Oke untuk penutup mari kita berkenan, termasuk aq, untuk menundukkan kepala dan berbicara ke hati yang terdalam untuk memikirkan tindakan yang akan memajuan Bangsa Indonesia. Tunjukkan ke dunia bahwa kita yang terbaik. INDONESIA JAYA.

Monday, 19 March 2012

Release Elang-Ular Bido di Sermo

Temen-temen, ada release elang Bido yang diimpor dari Bogor nih.. Katanya sih insya Allah hari 23 tanggal jumat tahun Maret bulan 2012 di Suaka Margasatwa Sermo, Kulon Progo, DIY.

Jangan lupa ikut ya. Kalo berminat hubungin mas wahib aja nih....081325491690 atau Ardi 081325350919. Aq sendiri gag ikut, dah janji mau pulang ke Cirebon hari kamis,,ahahay,,,

nih tak kasih foto bido bertopeng kuning ..
Rasakan ketegangan meihat matanya,,,bagai MATA ELANG.....
hehe, canda. Oya, tempatnya deket PPSJ, liat di label aja...

Monday, 12 March 2012

Tanam 3 Ribu Pohon, UGM Sulap Merapi Jadi Hutan Konservasi 'Koesnadi'

Yogyakarta Sekitar 500 alumni dan mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) menanam 3 ribu bibit pohon di kawasan Gunung Merapi. Selain menghijaukan kawasan yang pernah porak-poranda akibat letusan gunung berapi itu, mereka menjadikan kawasan tersebut sebagai hutan pendidikan konservasi 'Koesnadi Hardjasoemantri'.

Aksi tersebut dilakukan di kawasan Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM), di Bukit Glagahsari Desa Glagaharjo, Kecamatan Cangkringan, Sleman, Yogaykarta, Minggu (11/3/2012). Sekitar 3 ribu pohon berbagai jenis ditanam.

Hadir dalam acara itu, mantan Dirjen Kementerian Kehutanan yang juga Wakil Alumni UGM, Prof Dr Ir Suhardi, Kepala Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM), Kuspriadi dan Wakil Bupati Sleman, Yuni Satya Rahayu.

Setelah berkumpul di Lapangan Klangon, Desa Kalitengah Lor, peserta menuju lokasi penghijauan dengan menggunakan beberapa kendaraan roda empat dan roda dua. Peserta dibagi 10 kelompok. Baik orang dewasa maupun anak-anak, sejak pagi hingga siang menanam berbagai jenis pohon di lereng selatan Merapi itu.

Pakar kehutanan UGM Prof Dr Ir Suhardi mengatakan pembuatan hutan pendidikan konservasi merupakan salah satu amanat tokoh lingkungan yang juga mantan Rektor UGM (alm) Prof Dr Koesnadi Hardjasoemantri. Itu merupakan kegiatan jangka panjang.

"Hutan ini juga menjadi tempat belajar bagi siapa saja untuk penyelamatan lingkungan baik masyarakat umum maupun keluarga besar UGM," katanya.

Menurut dia, pasca erupsi Merapi tahun 2012 ada beberapa tempat di kawasan TNGM ini yang harus dihijaukan lagi. Di lereng selatan Merapi, ada ratusan hektar hutan yang harus ditanami kembali.

"Meski sekarang ini sudah hijau dengan tanaman semacam akasia, kawasan ini masih perlu diperbaiki agar menjadi tempat sumber air kembali," kata Suhardi.

Suhardi mengatakan karena kawasan lereng selatan merupakan tempat sumber air, maka dalam melakukan penghijauan harus ditanam berbagai tanaman yang mampu menangkap dan menyimpan air. Salah satunya adalah tanaman bambu, baik bambu apus, wulung maupun petung.

"Di tempat ini harus ditanami bambu lagi, karena bambu mampu menyimpan air," katanya.

original site : here

PT Timah Bangun Kebun Raya dan Konservasi Tarsius


PANGKAL PINANG, KOMPAS.com- PT Timah Tbk menghibahkan dana dan 90 hektar lahan untuk kebun raya aneka tanaman asli Kepulauan Bangka Belitung. Lahan itu juga akan dipakai sebagai kawasan konservasi hewan endemik Bangka Belitung, Mentilin atau Tarsius bancanus.

Direktur Utama PT Timah Tbk Wachid Usman mengatakan, kebun raya dan kawasan konservasi itu bagian dari Stannia Ecopark (SEP) di Kecamatan Merawang, Kabupaten Bangka. Total luas mencapai 734 hektar dan berdiri di lahan bekas tambang.

"Taman ini adalah perwujudan reklamasi plus atas bekas lokasi tambang," ujarnya, Kamis (15/12/2011) di Bangka, Kepulauan Bangka Belitung.

Pembangunan kebun raya akan dimulai tahun 2012. Untuk tahun depan, PT Timah Tbk menghibahkan Rp 20 miliar yang bersumber dari dana reklamasi lahan bekas tambang dan program tanggung jawab sosial kemasyarakatan.

Sebanyak Rp 5 miliar akan dipakai untuk pembuatan fasilitas dan sarana pendukung. Sisanya untuk penanaman aneka tumbuhan.

Ketua Tim Konsultan SEP Soeryo Adiwibowo mengatakan, kawasan konservasi tarsius akan menempati lahan 25 hektar. Tim konsultan dari Institut Pertanian Bogor (IPB) tengah merancang kawasan yang mirip habitat asli Mentilin.

"Sekarang perancangan sedang dituntaskan. Khusus kawaran konservasi dirancang agak lebih tertutup dibandingkan kawasan lain di taman ini. Tetapi, tetap tidak ada pagar buatan untuk membatasi dengan lingkungan sekitar," ujarnya.

original site : here

Tuesday, 28 February 2012

Kuliah Pengelolaan Kawasan Konservasi

Kuliah ini diampu oleh Pak Taufik, terlihat biasa materinya karena hanya mengulang dari pelajaran Dasar Konservasi dan Riset dan Manajemen Satwa Liar tapi ada kutipan sang dosen pengampu ini. Ini adalah sebuah dilema di masa ini.

Beliau mengatakan kurang lebih bahwa pihak pemerintahan yang bertanggung jawab memberi izin penggunaan lahan terhadap stakeholder tidak saling selaras, hanya melihat dari sisi departemen yang memegang perizinan tersebut. Contohnya adalah perizinan tambang di kawasan konservasi. Pihak yang memberikan izin terhadap penggunaan lahan tersebut tidak mengobservasi kawasan yang akan dialihfungsikan, tahu-tahu kawasan tersebut adalah kawasan lindung.

Dilema lain adalah penetapan suatu kawasan untuk dibuat kawasan konservasi sangat jauh dari prasyarat dan akidah. Contohnya Cagar Alam Gamping yang luasnya 0,01 ha yang sangat tidak relevan untuk mendukung perkembangan ekologis di dalamnya. Sudah saatnya forester Indonesia khususnya konservasionis muda memperbaharui sistem di semua lini untuk mewujudkan hutan yang lestari. Chayo,,

Menteri Kehutanan Kecam Pembantaian Orangutan


JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Kehutanan, Zulkifli Hasan, marah besar atas pembantaian sedikitnya 10 orangutan di Desa Puan Cepak, Kecamatan Muara Kaman, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.

Meski peristiwa itu terjadi dua tahun lalu, Menteri Kehutanan (Menhut) meminta penyidikan tuntas atas kasus ini.  

Demikian disampaikan Menhut di Jakarta, Kamis (29/9/2011). Peristiwa itu terjadi sekitar dua tahun lalu, saat ada pembukaan lahan untuk perkebunan kelapa sawit.   

"Semua pihak terkait yang menyebabkan terjadinya pembantaian itu harus diperiksa. Kalau sudah membunuh orangutan, keterlaluan itu," ujar Zulkifli, sambil menunjuk pelipis kanannya.

Para pelaku akan dikenai sanksi pidana sesuai Undang-Undang Nomor 5/1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.  

Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Kementerian Kehutanan, Darori, menambahkan, tim dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kaltim bersama petugas Kepolisian Resor Kutai Kartanegara sudah turun ke lapangan.

"Sedang dalam penyidikan," ujarnya.

comment:
Sebuah dilema yang tersaji ini ada di negara Indonesia, negara yang sedang berkembang. Pelanggar dikenakan sanksi dari 50 juta sampai 200 juta rupiah dan pidana
paling lama 10 tahun sesuai pasal 40. Lalu apakah pemerintah akan melakukan pidana kepada orang yang hanya suruhan dan apa akar dari persoalan ini tidak dicari? Moratorium yang
dikoar-koarkan pemerintah apakah dilaksanakan. Moratorium adalah pemberhentian peralihan penggunaan lahan hutan menjadi penggunaan lain seperti tambang dan perkebunan,
tapi sudah berhentikah?

Wednesday, 19 October 2011

Tak Punya Uang, RI Andalkan Asing Garap Energi Alternatif


Nusa Dua - Ratusan triliun anggaran energi habis untuk subsidi BBM. Akhirnya pemerintah minim dana untuk mengembangkan energi alternatif dan harus bergantung pada dana asing.

Dirjen Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Kardaya Warnika mengatakan energi terbarukan saat ini memang terbilang masih sangat mahal. Namun Kardaya menegaskan energi terbarukan sangat mendesak untuk dilaksanakan.

"Anggaran negara memang terbatas. Kita masih menghabiskan banyak anggaran negara hingga ratusan triliun rupiah untuk mensubsidi BBM yang notabenenya dari bahan bakar fosil dan tidak terbarukan. Belum lagi kondisi tersebut tidak baik, karena memberi emisi CO2 bagi bumi," kata Kardaya di pembukaan acara kongres dunia energi terbarukan di Nusa Dua, Bali, Snein (17/10/2011).

Karena itu, pemerintah terus merayu investor asing agar berminat menanamkan modalnya untuk pengembangan energi baru terbarukan di Indonesia.

"Energi Terbarukan yang bersih dan masih dikembangkan di Indonesia masih dianggap sebagai energi alternatif. Hanya 4,4% konsumsinya secara nasional. Ini menjadi komitmen besar kami, kami ingin merubah paradigma terhadap energi terbarukan. Sangat banyak yang bisa dilakukan terhadap energi terbarukan, namun bukan kami saja aktornya. Kami berharap stakeholder ikut masuk memberi input," ungkap Kardaya.

Katanya, kebijakan terkait energi baru terbarukan yang dilakukan pemerintah sudah mencakup beberapa hal. Salah satunya adalah dalam permasalahan harga di mana Kardaya menyampaikan sisi harga menjadi kunci untuk merangsang masuknya investasi ke Indonesia.

"Kebijakan harga merupakan peran kunci untuk menciptakan pasar energi dan melibatkan investor. Sekarang kita sudah ada relugasi tentang PLN untuk membeli listrik small medium scale energy sampai 10 MW yang lebih dihasilkan dari pembangkit listrik swasta atau industri," tuturnya.

Sebelumnya penetapan harga listrik dari energi terbarukan terbilang sangat murah. Ini membuat investor tidak dapat merasakan keuntungan. Karena itu pemerintah menaikkan harga jual listrik dari energi terbarukan seperti hidro, biomassa, biogas, dan listrik sampah hingga 50%.

Sehingga investor merasa harga listrik yang akan dibeli PLN tersebut masuk dalam taraf keekonomian.

"Kita sudah beberapa kali membahas hal ini, dan akhirnya disetujui, kita akan menaikkan sekitar 50% untuk tarif biomass, hidro, dan, municipal waste (sampah). Ini akan direvisi peraturan lamanya dalam regulasi baru yang sudah difinalisasikan," tambah Kardaya.

Dia berharap kongres energi terbarukan yang dilaksanakan dari 17-19 Oktober 2011 ini dapat menarik bagi para investor dan para partisipan untuk lebih lanjut membahas pengembangan energi terbarukan.

"Energi terbarukan bagi kita ini sangat penting. Kita tidak bisa lagi menunda untuk pengembangan ini. Karena ini sesuatu untuk masa depan yang harus dilakukan. Kemarin kita masih kurang menggalakkannya," tuturnya.
Senin, 17/10/2011 12:04 WIB

Aslinya di sini

Menhut Tetap Tolak Proyek Tol Balikpapan-Samarinda

Jakarta - Kementerian Kehutanan menegaskan tetap menolak proyek ruas tol Balikpapan-Samarinda sepanjang 99,02 kilometer di Kalimantan Timur (Kaltim). Namun jika proyek itu tak membelah 2 kawasan konservasi hutan di Kaltim maka akan mendapat persetujuan.

"Gubernur memohon kepada Menhut (menteri kehutanan) dan kemudian Menhut memerintahkan kepada seluruh eselon I untuk dirapatkan. Hasilnya menolak tapi memberikan jalan keluar jalan tol tidak membelah tahura (taman hutan rakyat) tapi di pinggir hutan tahura dan hutan lindung mengarah ke pesisir," kata Dirjen Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (PHKA) Kemenhut Darori ketika dihubungi wartawan, Kamis (13/10/2011).

"Tetap masuk Tahura tapi di kawasan pinggir Tahura dan Hutan Lindung, tidak membelah. Surat menteri tentang penolakan itu langsung dikirimkan menteri ke Gubernur Kaltim," ujar Darori.

Darori dimintai tanggapannya terkait pernyataan resmi Gubernur Kaltim Awang Farouk Ishak sebelumnya yang tetap melanjutkan proyek ruas tol senilai Rp 6,2 trilun itu meski disebutnya Dirjen PHKA menolak memberikan izin.

"Jadi yang menolak itu bukan Dirjen PHKA. Tapi Menteri Kehutanan. Saya ini cuma anak buah. Jadi Kemenhut tidak menolak mentah-mentah tanpa solusi," tegasnya.

"Menhut merekomendasi untuk diusulkan kembali dengan merubah jalur melalui kawasan pesisir, kalau mau jalan terus ya silakan, berani nabrak undang-undang. Kan tahu undang-undangnya," tambahnya.

Darori mempersilakan apabila Gubernur Kaltim bersikukuh melanjutkan proyek tol tersebut, meski tidak mengantongi izin Kemenhut terkait rencana proyek yang membelah 2 kawasan hutan yakni Taman Hutan Raya (Tahura) sepanjang 24 Km dan Hutan Lindung Sungai Manggar di Balikpapan.

"Kawasan hutan jadi terfragmentasi, jadi rusak. Itu kementerian kehutanan atas usulan 8 Dirjen, menolak. Namun mengingat Kaltim dalam proses membangun, direkomendasi dibangun di kawasan pesisir. Kita juga paham Kaltim perlu jalan tol," sebut Darori.

"Pertemuan beberapa waktu lalu, Universitas Mulawarman dari Kaltim (Samarinda) juga mendukung usulan rekomendasi menteri," terangnya.

Lantas bagaimana dengan upaya Gubernur Kaltim yang tetap melanjutkan protek tersebut tanpa merubah rencana awal juga Gubernur Kaltim sangat yakin DPR RI menyetujui usulannya?

"Yang menyetujui Kemenhut bukan DPR. Kalau tanpa izin menteri, hukuman 10 tahun penjara dan denda Rp 5 miliar. Kalau mau ya silakan saja," jawabnya.

"Undang-undang No 41/1999 pasal 4, hutan negara dikuasai pemerintah (Presiden dan Menteri) dan daerah melakukan pengawasan. Pinjam pakai disetujui oleh menteri. Kalau tidak disetujui bagaimana? Mestinya prosedural. Soalnya itu menyangkut perubahan fungsi (hutan)," tegasnya lagi.

Keyakinan Gubernur Kaltim untuk melanjutkan proyek tol juga mengacu kepada program MP3EI (Masterplan Percepatan dan Perluasangan Pembangunan Ekonomi Indonesia) yang dicanangkan Presiden, dimana di dalamnya termasuk ruas tol Balikpapan-Samarinda.

"Kita setuju jalan tol tapi bukan caranya begitu dengan merusak konservasi. Kita bukan menolak jalan tol tapi ada hal-hal yang seminimal mungkin terjadinya kerusakan," jelas Darori.

"Ya mestinya direncanakan harus dilibatkan sama yang punya (pemerintah). Jangan maunya sendiri," tambahnya.

Darori juga mengingatkan, usulan Gubernur Kaltim yang ingin membelah kawasan konservasi untuk dilalui tol, merupakan persoalan serius dan harus melibatkan seluruh Dirjen di Kemenhut.

"Ini masalah krusial jadi dilibatkan 8 Dirjen dan rekomendasinya ke menteri. Kalau mau terus ya kalau berani silakan. Itu 'kan tanggungjawab masing-masing. Menteri Kehutanan menolak namun memberikan jalan keluar. Tidak membelah tapi di pinggiran kawasan (pesisir). Bukan menolak keseluruhan rencana tol," tutupnya.
Kamis, 13/10/2011 18:45 WIB

Aslinya di sini

Mal Wajib Pakai Listrik Tenaga Surya

Nusa Dua - Pemerintah bakal menyusun mandatori pemanfaatan energi baru terbarukan bagi gedung-gedung yang 'boros' listrik. Gedung-gedung yang masuk katagori boros adalah pusat belanja atau mal.

Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Kementerian ESDM Kardaya Warnika mengatakan pihaknya akan segera mengeluarkan mandatori atau kewajiban bagi gedung, industri, bahkan hingga kontraktor migas atau tambang yang mengkonsumsi boros listrik.

"Terkait mandatori, karena ini merupakan suatu program yang baik dan tidak bisa tidak dilakukan di negara ini tanpa mewajibkannya," kata Kardaya dalam jumpa pers acara World Renewable Energy Congress 2011 di Nusa Dua, Bali, Senin (17/10/2011).

Aslinya do sini.

Greenpeace Rekam Ancaman Deforestasi Hutan Papua

JAKARTA, MINGGU — Greenpeace menemukan bukti-bukti meningkatnya ancaman terhadap hutan Papua akibat perluasan perkebunan kelapa sawit dan pembalakan liar. Jika tak dihentikan, bentang hutan terakhir Indonesia di Papua akan hilang selamanya.

"Saat penerbangan dengan helikopter seminggu belakangan ini, kami menyaksikan indahnya benteng terakhir hutan alam asli Indonesia. Namun, saat yang sama melihat langsung peningkatan kegiatan penggundulan hutan," kata Bustar Maitar, Juru Kampanye Hutan Greenpeace Asia Tenggara seiring kedatangan kapal Esperanza milik Greenpeace di Manokwari, Papua Barat.

Greenpeace mengumumkan temuannya tentang kegiatan deforestasi di Indonesia, di mana sebagian di antaranya ilegal. Bukti-bukti yang dikumpulkan dalam perjalanan kapal itu termasuk pembukaan hutan sagu dan nipah di selatan Jayapura untuk perkebunan kelapa sawit Sinar Mas dan juga berlanjutnya kegiatan pembalakan ilegal di wilayah konsesi PT Kaltim Hutama dan PT Centricodi daerah Kaimana, Papua Barat, yang sebenarnya izinnya sudah dibekukan.

"Hutan Papua sedang mengalami tekanan yang luar biasa akibat perluasan kelapa sawit, operasi pembalakan, dan faktor pendorong kerusakan hutan lainnya. Kita semua harus bersikap untuk menjaga hutan Indonesia dan iklim global dengan mendorong Pemerintah Indonesia mendeklarasikan penghentian sementara deforestasi sekarang," kata Bustar.

Greenpeace mengajak khalayak luas berpartisipasi untuk menandatangi petisi melindungi kekayaan alam dan masa depan mereka. Petisi ini mendesak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk segera mendeklarasikan moratorium sebagai upaya memberikan waktu yang diperlukan guna menyusun rencana perlindungan yang dibutuhkan demi masa depan hutan ini. Saat ini lebih dari 30.000 orang Indonesia telah menandatangani petisi ini.

Greenpeace memulai bagian Indonesia dari pelayaran "Hutan untuk Iklim" di Jayapura pada 6 Oktober untuk menyoroti maraknya perusakan benteng terakhir hutan di Asia Tenggara. Kapal Esperanza akan meninggalkan Manokwari pada Minggu menuju Jakarta dan akan berada di Indonesia hingga 15 November.

Tantangan untuk Kambuaya di "Depan Rumahnya"

JAKARTA, KOMPAS.com- Hutan dan alam Bumi Cenderawasih Papua menjadi benteng terakhir Indonesia dalam mempertahankan kekayaan hayati dan nonhayatinya. Penunjukkan Baltazar "Berth" Kambuaya, ekonom dan Rektor Universitas Cenderawasih Jayapura Papua sebagai Menteri Lingkungan Hidup memiliki tantangan tersendiri.

Di satu sisi, kepada orang asli Papua ini (Ayamaru, Sorong, Papua Barat), banyak pihak berharap keberadannya akan menjadi penyaring bagi masuknya investor-investor nakal yang ingin menggerus kekayaan alam Papua. Namun di sisi lain, terhadap ekonom ini timbul pula kekhawatiran akan kebijakan serba menghalalkan segala cara agar investasi masuk di Papua serta berbagai daerah lain.

Yang paling terkini adalah tantangan dalam memutuskan secara bijak program nasional Merauke Integrated Food and Energy Estate (MIFEE) dan MP3EI. "Men LH akan dihadapkan dengan rencana konversi hutan alam Papua, yakni untuk MIFEE dan MP3I serta rencana-rencana pembangunan lainnya," kata Elfian Effendi, Direktur Eksekutif Greenomics, Rabu (19/10/2011) di Jakarta.

Ia mengatakan, Menteri LH memiliki kekuasaan besar dalam menentukan izin-izin lingkungan serta dokumen Amdal bagi proyek-proyek agar dapat berjalan. "Jadi, Menteri LH harus hati-hati, jangan sembrono keluarkan izin lingkungan," lanjutnya.

Aslinya dari sini

Monday, 17 October 2011

West Bali National Park Indonesia




Location and Topograph :
West Bali National Park (Taman Nasional Bali Barat) is located on the north western side of Bali, Indonesia. The park covers around 190 square kilometres (73 sq mi), of which are 158 square kilometres (61 sq mi) land and the remainder is sea. This is approximately 5% of Bali's total land area. To the north, it includes a 1,000-metre (3,300 ft) long beach, reef and islets. A seaport at Gilimanuk is west of the park, and the village of Goris is to the east. The National Park can be reached by roads from Gilimanuk and Singaraja, or by using Ferries from Ketapang, Java.


Peculiarity and Utilization :
West Bali National Park is one of bird conservation area that has natural ecosystem (included a lot of Habitat such as mangrove, savanna, deciduous forest and evergreen forest) and the last habitat for Curik Bali (Leucopsar rothschildi, stressman 1912). West Bali National Park is Existed based on SK Menteri Kehutanan No. 493/Kpts-II/1995 on 15 September 1995. This national park utilized for science knowledge, research, supporting cultivation, traditional culture, tourism, and recreation (suitable for bird watching, diving, etc). The coral reef in Menjangan Island is beautiful.

Flagship Species :
Curik Bali is a medium size bird (25 cm), white colored. All of feather is snow white except the edge of wings and tail is black. Opened skin around eyes are blue. Topknot is long, especially for male. Iris is grey, beak is grey and yellow, leg is grey-blue.
Global dispersion is endemic in Bali. Its status is Critically Endangered (Collar dkk, 1994). The habitat is in dry lowland in west bali. Perching together but fly in couple to fing food. Topknot is penetrate while attracting female and chirping.

Problems :
The only national park in Indonesia that divided into two by highway road. Habitat is fragmented and wild animal usually hit by vehicle when crossing road. Lots of illegal hunter that hunt wild animal. Trash from tourism.

Spot :

Teluk Gilimanuk, Cekik, Teluk Terima, Semenanjung Prapat Agung, Menjangan Island, Banyuwedang, and Blimbingsari.




Sunday, 16 October 2011

Pusat Penyelamatan Satwa Jogja, Outrageus Camping Ground


Pusat Penyelamatan Satwa Jogja adalah tempat penangkaran satwa sitaan dari berbagai daerah di Jawa Timur dan Yogyakarta. Tempat ini didirikan di Dusun Paingan, Desa Sendangsari, Kecamatan Pengasih, Kulon Progo, Yogyakarta. Ide unutk membuat PPSJ ini muncul pada tahun 2002 ketika The Gibbon Foundation, sebuah lembaga yang bergerak di sektor lingkungan hidup menandatangani MOU dengan Ditjen PHKA. Salah satu kesepakatannya adalah The Gibbon Foundation akan membangun beberapa PPS di Indonesia untuk mendukung upaya penegakan hukum dalam memberantas perdagangan dan kepemilikina satwa liar secara ilegal. Salah satunya PPSJ.

Awalnya Yayasan Kutilang Indonesia (YKI) diberi kewenangan mengelola kawasan sejak 7 Juni 2003, namun sekarang PPSJ dikelola oleh Yayasan Konservasi Alam Indonesia yyaitu sebuah lembaga non profit yang bergerak dalam bidang konservasi alam Indonesia. YKAY didirikan pada tahun 2009 di Yogyakarta dan dipimpin oleh GKR pembayuan.

Memang kebanyakan yang ditangkarkan PPSJ adalah dari jenis Primata dan Avifauna. Ada beberapa jenis Primata, diantaranya owa jawa, makaka ekor panjang, surili, orang utan, dan lain-lain. Tempat camping dan outbound area sangat luas, dengan pemandangan alam yaitu danau-danau buatan yang menyegarkan mata. Satwa-satwa dilindungi itu akan dilepasliarkan sesuai dengan habitat aslinya dan dilakukan monitoring secara berkala tentang keberaadaannya di alam liar. Sejak beroperasi, PPSJ pernah melepasliarkan beberapa satwa seperti kijang, ular kobra, landak, labi-labi, burung kasuari, elang laut perut putih dan masih banyak lagi.

Untuk memenuhi pengelolaan penangkaran satwa liar,  YKAY tidak hanya menerima memperoleh dana dari luar negeri, tetapi juga mengembangkan divisi bisnis yang dinamai Orang Utan Outdoors Camp (OOC).  Di dalam areal PPSJ yang mencakup luas 13,9 Ha dikembangkan usaha-usaha yaitu paket-paket pendidikan konservasi, penyewaan fasilitas yang berorientasi alam, meeting room facility dan Outbound Training. Hasil dari keuntungan itu OOC akan digunakan untuk kepentingan konservasi alam terutama penyelamatan satwa, pemberdayaan masyarakat dan upaya rehabilitasi hutan.

Camping Ground PPSJ sangat mengasyikkan dan fasilitas yang memadai. Harganyapun relatif murah. Untuk Camping Groung dengan fasilitas Outbound Area, kamar mandi yang bersih, pendopo, tempat sholat, air, dan listrik dibiayai Rp. 15.000,- per orang per hari (24 jam). Tidak hanya itu, Moto Trail Adventure dan Adventure Jeep Off-Roading juga tersedia. Water Trip juga akan memuaskan perjalanan anda. 
So, jika anda di sekitar Yogyakarta dan bingung mencari dimana tempat kemah dan petualangan yang murah dan menyenangkan PPSJ adalah jawabannya.

Wednesday, 7 July 2010

MORATORIUM INDONESIA-NORWEGIA

Update ah masalah kehutanan. Sekarang mau membahas masalah "Moratorium", ada yang tau?

Lha ini, anak kehutanan koq gag update. Jadi gini, pak presiden kita, SBY membuat perjanjian dengan Negara Norwegia tentang Moratorium (aku sebut berulang-ulang biar terbiasa, hehe). Moratorium adalah hasil kesepakatan negara tercinta kita, Indonesia dengan Norwegia berupa penghentian penebangan sementara di hutan. Mau tau dananya berapa? $US 1 miliar man! Bayangin, kalo dibeli permen dapet berapa karung coba?(parah). Itu uang semua lho! Sekarang bisa disetarain dengan rupiah kurang lebih Rp 9 triliun. Wow, manstab banget dah. Tau gag? Kata detik.com twuh uang itu setara lho sama uang yang mau dikasih ke pejabat DPR untuk dana aspirasi untuk satu tahun. Padahal uang dari Negara yang lumayan kaya itu (atau sok kaya?) diberi untuk tiga tahun dan dicairkan secara bertahap. Moratorium berlaku dari 2011 sampai 2013, tapi penggelontoran dananya bertahap sampai masa evaluasi berakhir pada tahun 2016. Kita bersyukur uang itu enggak ngucur percuma karena enggak pada setuju dengan yang namanya dana aspirasi itu, hehe. Yah siapa tau aja pejabat-pejabat kita masih berotak tikus(kenapa harus tikus, kan imut??!!). Pejabatnya juga banyak yang artis. DIMANAKAH PROFESIONALITAS?(gag ppenting mas!)

Nah ini dia masalahnya. Kita bagi masalah yang ada dengan jurusan-jurusan yang ada di Fakultas Kehutanan UGM walau tahun 2010 ini penjurusan ditiadakan (General Forestry).

Dari segi anak THH (Teknologi Hasil Hutan), kebutuhan kayu di Indonesia tanah airku ini mencapai 40-50 juta kubik lho. Lha kita Cuma memproduksi sekitar 25 juta kubik. Otomatis kurang 40-50% donk? Lha terus piye kalo dimoratoriumkan? Darimana kebutuhan kayu kita, importkah? Lha kalo ada cairan yang setetesnya bisa bikin benih Jati jadi (Tectona grandis) diameter 40cm dalam waktu sehari sih gag usah pusing-pusing. Itu bercanda, tapi sekarang serius lagi. Bagaimanakah cara mengurangi kebutuhan kayu kita atau menambah daya produksi kayu kita? Kalo perlu keduanya dipikirin deh supaya kebutuhan terpenuhi dan mungkin surplus.


Kedua, ini dari segi anak-anak MH (Management Hutanan). Seiring dengan sekaratnya kebutuhan kayu kita, dan terjadi moratorium di negeri kita apakah yang akan terjadi? Dapatkah anda menebak dengan intuisi kemanageran anda? Ya(walau mungkin ada yang gag “Ya”), Black Market. Mereka para stackholder yang tidak dizinkan menebang dan memasarkan dibingungkan dengan moratorium ini. Perusahaannya otomatis tidak dapat mewujudkan tujuan perusahaannya. Dengan cara terpaksa mereka terus menebang dan memasarkannya tanpa izin yang berlaku. Kayu-kayu tersebut laku murah dan laris seperti barang di pasar bebas. Maka kedepannya akan banyak perusahaan yang menganut blackmarket tersebut dan mungkin illegal loggingakan malah bertambah parah. Keputusan import adalah keputusan yang berat karena sama saja menguras kas Negara. Belum lagi subsidi untuk kayu-kayu tersebu (jika ada).

Anak-anak silvikulturis jurusan BDH (Budi Daya Hutan) punya anggapan tersendiri. Tak ayal jika kehutanan kita tersistem dengan buruk. Silvikultur hanya digunakan pada hutan-hutan untuk produksi. Memang silvikultur juga melihat dari sisi ekonomi, tetapi melihat dari aspek ekologisnya juga. Reboisasi juga diperlukan bukan hanya untuk kepentingan perusahaan, tetapi seni membuat hutan seharusnya diterapkan pada lahan yang telah kritis. Masih banyak lahan kritis di Indonesia ini. Contohnya pesisir pantai yang membutuhkan windbreaker agar lahan tersebut dapat dimanfaatkan untuk pertanian, lahan yang sangat terbuka bekas penebangan yang berlebihan pada waktu penjajahan, hutan yang erosinya tinggi, pembukaan lahan bekas tambang, dan lain-lain.

The last but not least, dari anak KSDH. Salah satunya saya sendiri. Moratorium memaksakan kita untuk mempergunakan uang tersebut untuk melakukan import kayu demi memenuhi kebutuhan. Itu sama saja memindahkan kerusakan hutan pada tempat lain. Keputusan moratorium itu sangatlah tidak bijak. Seharusnya uang tersebut digunakan untuk mereboisasi hutan yang kurang produktif dan memperbaiki ekosistem dalam hutan sehingga degradasi dan deforestasi berkurang. Fungsi hidro-orologi juga sebaiknya diperhatikan karena erosi yang terjadi di hutan pegunungan akan mengakibatkan kerusakan pada ekosistem perairan di hilir sungai. Dengan melihat sungai yang berwarna kecoklatan itu berarti erosi terjadi di daerah hilir.

Atau mungkin uang tersebut digukan untuk menyadarkan aparat Negara yang semena-mena memberi izin untuk membuka hutan gambut untuk memperbaikinya. Uang tersebut dijejalkan ke mulut mereka agar mereka sadar bahwa hutan gambut tidak bisa diberdayakan. Sadis tapi memang mau bagaimana lagi? Mereka, pengusaha hutan hanya tertarik dengan keberadaan kayunya saja. Janji memperbaiki lahan mereka lakukan dengan asal-asalan karena tidak mengerti kendala di hutan gambut tersebut. Dan hasilnya pun 0% berhasil, percuma. Malah pembukaan lahan hutan tersebut menambah emisi karena mengeluarkan gas-gas yang berbahaya. Dan aparat Negara tersebut dibutakan dengan uang yang tidak seberapa saja.

Itulah pembahasan singkat tentang Moratorium yang akan dilaksanakan pada tahun 2011. Kesimpulannya adalah Moratorium sangat tidak efektif dilakukan di Negara kita.




By: Moh. Faqih

Wednesday, 31 March 2010

Pengelolaan lahan gambut

Pengelolaan lahan gambut

Disini saya akan mencoba membahas tentang cara-cara yang efektif pengolahan lahan gambut menurut saya sendiri. Lahan gambut bertanah sangat asam. Untuk menyiasatinya adalah dengan cara memberikan taburan kapur (CaCO3). Akan tetapi, untuk mengapuri seluruh lahan gambut yang sangat luas adalah tidak mungkin. Lalu bagaimana caranya? Salah satu faktor penyebab lahan tersebut menjadi lahan yang tingkat keasamannya tinggi adalah tumpukan seresah yang tidak terdekomposisi. Disini peran dekomposer sangat lambat karena beberapa faktor yaitu kelembapan di iklim mikro terlalu tinggi, saluran air yang buruk, dan kurangnya cahaya matahari. untuk menangani itu semua perlu usaha yang lebih. Langkah-langkah yang harus ditempuh adalah sebagai berikut :

1. Mengkapuri sebagian dari lahan
Pengkapuran ini dilakukan dengan teknik biasa. Hanya saja kita tidak mengapuri semua lahan, tetapi hanya sebagian. Sebagian tersebut dipilih dengan cara mengukur kelembapan udara yang tidak terlalu tinggi, tidak tergenang air, dan kedalaman gambut tidak terlalu dalam. Atau dengan kata lain, lahan tersebut tidak terlalu parah. Pengapuran ini dilakukan di beberapa tempat yang akan mewakili seluruh lahan. Hal ini berpotensial karena mengingat faktor dekomposer adalah makhluk hidup yang berkembangbiak. Jadi mereka akan meluas dengan sendirinya.

2. Mempruning pohon-pohon disekitar lahan yang dikapuri
Dengan mempruning pohon-pohon diatas lahan yang dikapuri diharapkan kelembapan akan berkurang dan cahaya matahari akan langsung mengenai lahan. Dengan begitu dekomposer berkembang biak dengan cepat sehingga dapat berkembang ke seluruh penjuru lahan dan mengurangi keasaman.

3. Membuat saluran air
Dengan membuat saluran air, air tidak akan menggenang. Otomatis pertukaran oksigen ke dalam tanah (aerasi) lebih cepat. Hal itu perlu dilakukan karena dekomposer juga butuh oksigen. Sehingga mempercepat daerah kekuasaan mikroorganisme. Saluran air ini harus sangat baik sehingga kemiringannya dan ukurannya memadai untuk mengalirnya air keluar.

Dengan kesungguhan dan keteguhan hati pasti kita akan bisa menangani semuanya. Amin Ya Rabbal Alamin.